aku menemukan setapak yang hilang pada angin ribut di matamu
belokan dan persimpangannya sengkarut benar!
habisi saja aku lewat televisi yang kau pukuli setiap hari
serapah yang memekakkan semua lubang
-kebencian yang kau unduh dari kolong tanpa bayangbayang-
lalu aku akan kembali pada gambargambar hitam putih dan pensil tumpul
bersimpul mati dengan tungku dan timba
bersama batubatu di belakang rumah menyambit awan awan rendah
biar!
Senin, 10 Desember 2007
hari sudah malam
aku lelah mendengar keluh bulan yang kehilangan wajah
sedangkan kau masih bersikeras melucuti perjamuan yang dingin
beberapa catatan musim menguning di dinding
beberapa terserakseruak sebagai lembarlembar asing
: ingatan ingatan yang menunggu dilempar ke perapian
tapi tetap akan kutuangkan limun,
air hujan yang asam
dan nanah di cawanmu
meski cuma untuk kau tumpahkan pada malam yang pingsan
oh, aku rindu menjadi ombak pada teluk yang mendamparkanmu bersama cerita dari negeri jauh
sedangkan kau masih bersikeras melucuti perjamuan yang dingin
beberapa catatan musim menguning di dinding
beberapa terserakseruak sebagai lembarlembar asing
: ingatan ingatan yang menunggu dilempar ke perapian
tapi tetap akan kutuangkan limun,
air hujan yang asam
dan nanah di cawanmu
meski cuma untuk kau tumpahkan pada malam yang pingsan
oh, aku rindu menjadi ombak pada teluk yang mendamparkanmu bersama cerita dari negeri jauh
Selasa, 27 November 2007
surat untuk Nin
aku tahu kau masih menungguku di balik pintu, Nin
setelah anak anak pergi tidur
dengan kelelahan yang kau pilin pilin menjadi simpul
tapi kau tahu malam ini pun aku tak bisa pulang, Nin
terlalu terlambat untuk mengenali senja senja yang pernah kujanjikan
ketika hari masih sangat siang dulu
atau tentang bibit bibit ikan hias
dan tunas pisang yang kubawa dari gunung lemah kepadamu
ah, rumput macam apa yang sudah menumbuhi pelataran, Nin?
masihkah kau kesulitan menutup jendela di waktu malam seperti waktu kutinggalkan berpuluh purnama yang lalu?
sedangkan aku sudah lupa hari
dan menyerah untuk mengeja kata
rumah
maka biar kulipati nama anak-anak kita
-yang kian terasa payau di ujung lidah-
lalu kuselipkan di antara bilik bilik bedeng
dan kutabung bersama kesunyian..............
setelah anak anak pergi tidur
dengan kelelahan yang kau pilin pilin menjadi simpul
tapi kau tahu malam ini pun aku tak bisa pulang, Nin
terlalu terlambat untuk mengenali senja senja yang pernah kujanjikan
ketika hari masih sangat siang dulu
atau tentang bibit bibit ikan hias
dan tunas pisang yang kubawa dari gunung lemah kepadamu
ah, rumput macam apa yang sudah menumbuhi pelataran, Nin?
masihkah kau kesulitan menutup jendela di waktu malam seperti waktu kutinggalkan berpuluh purnama yang lalu?
sedangkan aku sudah lupa hari
dan menyerah untuk mengeja kata
rumah
maka biar kulipati nama anak-anak kita
-yang kian terasa payau di ujung lidah-
lalu kuselipkan di antara bilik bilik bedeng
dan kutabung bersama kesunyian..............
Sabtu, 03 November 2007
lebam (ku) ungu
aku mendengar pertanyaanku patah
meninggalkan lebam ungu pada seleret suar
sedang tergeragap dikepung udara
yang sudah tua
maka aku remuk
terjebak bentuk
sebagai remah remah
lupa arah
sedang kau tiup dari atap jauh di atas tanah
jatuh tanpa terdengar sesiapa
tak sisa jejak apa apa
selain sebagai si terlambat
yang tak pernah sempat
tinggal warna biru masih terjebak di ketinggian
menunggu kau tiup
kemudian
Rabu, 31 Oktober 2007
katakatamu (habisku)
lariklarik itu sudah menjelma semacam suamsuam kuku yang tak ingin
moksa dalam remang tak terpermanai
noktah yang dibaca sebagai tanpa
tak rasa akan apa
Selasa, 30 Oktober 2007
kabut dan belukar
dan malam lisut
dalam kepalan tangan yang raguragu.
sementara kekinian hanya keteringatan keteringatan palsu,
aku memilih mengamini kabut
dan jatuh cinta pada belukar.................
271017
dalam kepalan tangan yang raguragu.
sementara kekinian hanya keteringatan keteringatan palsu,
aku memilih mengamini kabut
dan jatuh cinta pada belukar.................
271017
kudapati ada yang sengaja tersesat lagi, demi sesuatu yang memanggilmanggil seperti keriut derit pintu rumah ibu,
mungkin rindu?
padahal telah amat dangkal ceruk itu.
dua tahun kemarin, dengan tanganku sendiri kutumpahi lubuk ingatanku dengan bertruk-truk alasan dan kejadian yang dengannya kupikir sudah tak sisa ruang untuk mengingat-ingat lagi.
tapi sekarang,
inikah aku berdiri linglung di sini?
di kekeringan yg kuciptakan sendiri?
ada waktunya untuk tidak mengerti
: aku ini sedang tersesat
atau sedang pulang......?
mungkin rindu?
padahal telah amat dangkal ceruk itu.
dua tahun kemarin, dengan tanganku sendiri kutumpahi lubuk ingatanku dengan bertruk-truk alasan dan kejadian yang dengannya kupikir sudah tak sisa ruang untuk mengingat-ingat lagi.
tapi sekarang,
inikah aku berdiri linglung di sini?
di kekeringan yg kuciptakan sendiri?
ada waktunya untuk tidak mengerti
: aku ini sedang tersesat
atau sedang pulang......?
Langganan:
Postingan (Atom)
