Sabtu, 07 Februari 2009

untuk debu

bulan tak pernah selamat sampai subuh.
cuaca sedang sulit, katanya.

gambargambar jatuh.
angin berkesiur tajam tibatiba.

sampai di lantai keduanya mati bersama.
siapa itu, mengunci mereka di laci kedap udara.

aku memecah diri lebih renik dari debu

: menjadi hantu.

11 komentar:

Ely mengatakan...

endingnya kok hantu ?

sayurs mengatakan...

lalu segera kusiapkan
dupa dan kembang
untukmu
:hantu

:D

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

akh,.. hantu2 menyeruak di ujung mataku. serupa debu. mengganjal. salah satu serupa dirimu.

el jangan jadi arwah penasaran ya.
hihihihi,.. takut.

eL mengatakan...

@ ely, sayurs, doa di putik kamboja :

ya ampun. saya bukan "hantu"..

ah, tapi bukankah kadang kita memang seperti hantu? beda di sifat materi dan frekuensi saja toh? :)

haris mengatakan...

sedikit berbau jokpin, el. benarkah begitu?he2.

eL mengatakan...

@ haris :

oh ya? hmm.. padahal sudah lamaaaaa sekali nggak baca jokpin, saya :)

Steven mengatakan...

puisimu ini sangat hebat kalau tanpa baris terakhir itu. aku sangat kagum padamu!

Anonim mengatakan...

sungguh Puisi yang entah bagaimana mulanya membuatku sedih eL. tetapi, sebagai sediakala, sepelingsirnya sungguh senantiasa yang dilahirhadirkannya adalah rasa Bahagia. engkau, pasti, faham..., kerna pernah sempat ~dan semoga masih~ dipeluknya. erat dan hangat, bukan?

eL mengatakan...

@ steven :

oh ya? terimakasih steven :)



@ anonim :

masih. selalu, semoga. :)

Anonim mengatakan...

>n9
Nice..hunyy

eL mengatakan...

@ anonim ; eeerr.... siapa ya?